Senin, 11 April 2016

IMAM NAZARENE TIDAK SELIBAT!!!

SELIBAT DALAM JUDAISM
Karena PB adalah turunan dari Perjanjian Sinai, maka keimamatan Melkisedek di PB juga adalah turunan dari Keimamatan Lewi di PL. Masih ada keterkaitan di antara perjanjian dan keimamatan ini. Mari kita lihat keimamatan Lewi, apakah mereka memang diajar, diharapkan, dituntun untuk hidup selibat (tidak menikah) oleh Alaha? Jawabnya tidak. Alaha di dalam PL tidak pernah mengajarkan imam atau para rabbi (pengajar) Yahudi untuk selibat. Baik, apa buktinya?
  1. Imam Besar Lewi disarankan menikahi seorang pewaran[1]. Memang Imam Besar tidak boleh sembarangan memilih istri, harus perawan, tidak boleh janda. Namun tetap saja pernikahan adalah hal yang wajar-wajar saja.
  2. Adam diciptakan untuk bersama Hawa[2]. Pernikahan itu adalah inisiatif Alaha, bukan rencana manusia sendiri. Dan ada perintah Alaha jelas tercatat tidak tersirat untuk berkembang biak dan penuhi Bumi[3] .
  3. Selibat dalam pandangan tradisi Yahudi dianggap tidak lengkap[4]:
“Dia yang tanpa istri hidup tanpa sukacita, tanpa berkat…tanpa kedamaian’.
  1. Pernyataan Rabbi Eliezer sangat tegas dalam hal ini[5]:
“Seorang Yahudi tanpa seorang istri bukanlah seorang pria”
  1. Kaum pria Sekte Esseni Yahudi dipercayai banyak kalangan hidup selibat, kendati ditemukan tengkorak wanita di penggalian Qumran. Ini memungkinkan bahwa mereka juga menikah untuk menjaga keturunan tetap ada.[6]
Bahkan ada pemikiran bahwa Rabbi Yeshua Nazarene itu bagi mereka juga hidup menikah.

YESHUA TIDAK MENIKAH
Apa yang dialami dan dilakukan oleh Yeshua tidaklah menjadi contoh teladan yang harus dilakukan apa adanya oleh pengikut-Nya. Berbeda dengan Muhammad dalam Islam yang semua tindakan bisa dicontoh umatnya karena dia mereka yakini sebagai contoh paling baik untuk alam ini. Berbeda dengan Yeshua, bagaimana Dia tidak menikah, berhenti bekerja di usia 30 tahun untuk berkeliling mengajar, tidak punya tempat tinggal tetap alias selalu mengembara, berjalan kesana kemari tidak naik kendaraan, mengajak ibu-Nya berkeliling juga, itu semua tidak perlu dicontoh pengikut-Nya. Yang perlu dilakukan umat Mshikaye adalah melakukan perintah-Nya terutama di dalam Limudah. Nazarene berbeda dengan Islam, berbeda jauh dalam hal ini.

Yeshua diutus memang dengan tugas yang berat, mungkin dengan menikah akan malah banyak menimbulkan masalah dengan pembagian waktu. Sebenarnya mau menikah atau tidak, dalam Judaism dan Nazarene adalah suatu keputusan pribadi. Tidak menjadi masalah kalau Yeshua itu menikah, seorang Rabbi Yahudi yang menikah itu tidak melanggar perintah Alaha. Dan tidak ada ketentuan secara organisasi dalam jemaat seorang imam atau uskup harus selibat. Sekali lagi, keptusan selibat adalah keputusan pribadi masing-masing, jika Yeshua memutuskan tidak menikah maka itu harus dihormati.

SELIBAT DALAM GEREJA RASULIAH PADA UMUMNYA
Banyak contohnya imam itu harus selibat di dalam Gereja Rasuliah atau Uskup pastilah seorang yang hidup selibat, jarang ditemukan yang menikah. Ada sisi positifnya, mereka bisa focus dalam melayani Alaha dan jemaat. Namun tetap saja, selibat yang dijadikan ajaran gereja bukanlah ajaran awal. Selibat untuk menjadi uskup dan imam adalah ajaran baru atau setidaknya bukan ajaran Nazarene kuno abad 1.

SELIBAT DALAM NAZARENE INDONESIA
Bagaimana jika ada jemaat yang ingin konseling masalah suami istri? Bagaimana meminta nasihat bagaimana mendidik anak yang bandel kepada mereka yang tidak pernah menikah? Apakah nasihat moral saja sudah cukup? Teori memang mudah daripada praktik, justru para imam dan uskup yang selibatlah yang harus belajar membina rumah tangga utuh dan mengarahkan anak yang bandel kepada jemaat, jangan dibalik.
Tidak pernah ada larangan menikah dalam Limudah! Dengan membuat batasan dalam organisasi maka ujung-ujungnya akan menimbulkan masalah. Nazarene Indonesia menghormati setiap Uskup selibat dari Gereja Rasuliah lain. Dan kami mengundang para imam dan uskup yang menikah lalu ‘ditendang’ keluar dari Gereja Rasuliah untuk bersama-sama dengan kami melayani Alaha yang memerintahkan untuk menikah.



Gb Keluarga Uskup Mar Nicholas, sumber: Foto GNI

SELIBAT DALAM GEREJA ROMA KATOLIK
Merupakan kejadian memalukkan melihat banyak kasus Imam dan Uskup Roma Katolik jatuh dalam skandal pelecehan anak di berbagai media. Kendati Vatican berusaha menutupinya, namun dengan berperannya media, sekarang kasus demi kasus dengan mudah diakses. Ini mencoreng nama Gereja Roma yang memang terbaca dalam sejarah memiliki masalah besar dalam hal selibat ini. Banyak Uskup bahkan Paus yang jatuh karena skandal sex sebagaimana dicatat dalam sejarawan berikut[7]:
Sebaliknya, Theodora pun memiliki selesra sempurna terhadap orang-orang jahat dan pestapora. Salah satunya adalah Lando I yang menjadi Paus hanya selama 7 bulan antara tahun 913-914 Masehi. Tidak begitu banyak diketahui tentang Lando selain banyak menghabiskan waktu berteman dengan ‘wanita-wanita cabul’ dan menurut seorang penulis kronik abad pertengahan, Lando akhirnya menemui takdirnya.
Seberapapun besar dana Vatican, tehonologi akan memuat wajah aslinya terkuak pada dunia.
Lim 5:1 Dan inilah tentang Jalan Kematian. Pertama sekali dari semuanya ini adalah jahat dan terkutuk: Pembunuhan, perzinahan, hawa nafsu, percabulan, pencurian, penyembahan berhala, ilmu gaib, ilmu sihir, pemerkosaan, saksi palsu, kemunafikan, bercabang pikiran, penipuan, kesombongan, kedengkian, mementingkan keinginan diri sendiri, tamak, bicara kotor, kecemburuan, gegabah (terlalu percaya diri), congkak, besar mulut;
Semoga mereka bertobat, meninggalkan Vatican dengan aturan duniawinya merupakan langkah bijak jika memang ingin menikah. Menikahlah dan berbahagialah dengan pasangan kita. Itu perintah Alaha, jangan berzinah, cabul, dan penuh hawa nafsu.

Sekelompok umat Roma Katolik sendiri bergerak dari dalam untuk mengehentikan ketetapan selibat ini. Mereka dengan berani membuat website resmi dan menunjukkan data-data yang mencoreng wajah organisasi besar ini. Ternyata ada banyak paus yang menikah, punya anak, dan tidak semua Paus setuju dengan aturan selibat ini. Tulisan mereka yang diterjemahkan oleh Uskup Mar Nicholas dapat dibaca pada pada LAMPIRAN.



[1] Im 21:13 Ia harus mengambil seorang perempuan yang masih perawan.
[2] Ke 2: 23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."
[3] Kej 1: 28 Alaha memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi…
[4] Yev 62b berdasarkan Kej 5:2
[5] b. Yebam 63a
[6] Sejarah Selibat, Elizabet Abbot, hal 46, The Lutherworth Press Cambirdge
[7] Brenda R Lewis, Sejarah Gelap Para PAUS, kejahatan, pembunuhan, dan korupsi di Vatican, hal 23, Gramedia




LAMPIRAN
Future Church, 17307 Madison Avenue Lakewood, Ohio 44107 Amerika Serikat, Tel: 216 2280869| Fax: 216 2284872 | email: info@futurechurch.org
SEJARAH SINGKAT SELIBAT DALAM GEREJA ROMA KATOLIK

Abad Pertama
Mar Kefa (Petrus), Paus pertama, dan rasul yang dipilih oleh Yeshua, yang terpenting adalah, seorang yang menikah. Dalam PB menyiratkan seorang wanita memimpin perjamuan di jemaat awal.
Abad Kedua dan Ketiga
Zaman Gnostikisme: terang dan roh adalah baik, kegelapan dan bendawi adalah jahat. Orang tidak bisa menikah dan menjadi sempurna. Namun, kebanyakan para imam menikah.
Tanggapan Mar Nicholas:
Melihat konsep Gnostikisme, jelas Gereja Roma Katolik dan Gereja-gereja Ortodoks Timur dan Oriental Ortodoks sebenarnya pelanjut ajaran-ajaran bidat sesat Gnostikisme secara tersembunyi, terutama pengajaran Mistikisme agama Timur melihat seksualitas adalah sesuatu yang najis dan kotor, pada hal Iman Kristen tidak bersumber dari agama-agama misteri Timur tetapi dari Yudaisme Israel yang jelas Alaha itu menguduskan perkawinan. Pada hal Gereja Kristen Rasuli ini memiliki Kanon Sakramen Perkawinan, yang justru mendukung perkawinan itu sendiri dalam hal ini seksualitas bukanlah suatu hal yang najis atau kotor tetapi karunia. Dalam sejarah Israel ada juga orang yang tak menikah yang mengkhususkan dirinya melayani Alaha disebut sebagai seorang Nazir dan tidak ada selama ribuan tahun ada ketetapan lembaga Sanhedrin memfatwakan imam – imam dilarang menikah. Persoalannya, bukan masalah selibat itu dosa, tetapi diharamkan ada lembaga keagamaan memaksakan orang tidak menikah jika mau menjadi imam, pemaksaan aturan lembaga inilah yang sebenarnya menjadi inti persoalan. Ajaran-ajaran tradisi lembaga gerejawi yang memaksakan selibat bagi rohaniawan pada hakikatnya melawan Alaha sendiri, dan meludahi wajah Tuhan sendiri. Sebab peraturan manusia lebih tinggi dari pada peraturan Ilahi.
Abad Keempat
Tahun 306 Konsili Elvira, Spanyol, dekrit #43: imam yang tidur dengan istrinya pada malam hari sebelum Misa akan kehilangan pekerjaannya.
Tanggapan Mar Nicholas:
Ini hanyalah masalah moralitas spiritual, tidak perlu harus ketuk palu di konsili, sebab dalam kitab Tanakh sudah dijelaskan sebelum menjalankan yang “kudus” harus mentahirkan diri.
Tahun 325 Konsili Nikea: Dekrit bahwa setelah pentahbisan imam tidak boleh menikah. Ditegaskan Pengakuan Iman Nikea.
Tanggapan Mar Nicholas:
Gereja-gereja Ortodoks Timur dan Oriental juga masih mempraktekkan ajaran bida’a sesat ini dan tidak ada dasar Alkitabnya sama sekali.
Tahun 352 Konsili Laodicea: para wanita tidak ditahbiskan. Pada hal sebelum waktu ini ada pentahbisan para wanita.
Tanggapan Mar Nicholas:
Menurut ketentuan Tradisi Rasuli (Apostolic Constitution and Didascalia, disebutkan ada pentahbisan wanita sampai jenjang “Diakonisa” saja.
Tahun 385 Paus Siricius meninggalkan istrinya agar bisa menjadi paus. Dekrit sejak saat itu para imam tidak diijinkan lagi tidur dengan istri mereka.
Tanggapan Mar Nicholas:
Meninggalkan tanggungjawab sebagai suami adalah pengkhianatan terhadap janji perkawinan, ini adalah dosa gila jabatan duniawi. (1 Korintus 7:3). Nasihat Paulus kepada Uskup Timotius untuk mengangkat Uskup/Penilik, Presbiter dan Diakon yang MENIKAH. Syarat bagi Uskup (1Tim.3:1-7) dan syarat bagi Presbiter/Imam/Penatua (1 Tim.5:17-180), dan Diakon (1 Tim.3:8-13).
Abad Kelima
Tahun 401-St. Augustine menulis, Tidak ada daya kekuatan yang paling kuat menjerumuskan roh laki-laki selain daripada pelukan wanita.
Tanggapan Mar Nicholas:
Ingat kasus Samson dan Delila. Tetapi ada juga contoh Yosip dan istri Pothifar. Jadi tidak ada alasan selibat secara kelembagaan.
Abad Keenam
567-Konsili Tours ke-2: jika ada rohaniawan ditemukan tidur dengan istrinya akan diekskomunikasi (dikutuk atau dikucilkan) untuk satu tahun dan diturunkan anggota awam.
Tanggapan Mar Nicholas:
Inilah pengaruh ajaran Gnostikisme menyusup secara halus dalam Gereja Roma.
580-Paus Pelagius II: kebijakannya tidak mengganggu para imam menikah sepanjang mereka tidak menyerahkan properti gereja kepada istri atau anak.
Tanggapan Mar Nicholas:
Memang cenderung keluarga imam seringkali menjadi masalah bagi pelayanan imam, sebab keluarganya belum tentu satu visi dengan imam. Keluarga imam seringkali bersifat duniawi dan memanfatkan pengaruh imam untuk mendapatkan harta bendawi dari umat. Tuhan jelas akan menghukum manusia-manusia seperti ini karena telah mencemarkan pelayanan imam, seperti kasus Imam Eli dengan dua anaknya yang dursila, Pinehas dan Hofni (1 Samuel 2:12, 32-34).
590-604-Paus Gregory Agung berkata semua keingan seksual adalah dosa dalam dirinya sendiri (artinya keinginan seksual adalah intrinsik jahat?).
Tanggapan Mar Nicholas:
Paus Gregory adalah pengikut ajaran bidat sesat Gnostikisme!
Abad Ke-7
Tanggapan Mar Nicholas:
Parncis: dokumen menunjukkan bahwa mayoritas imam menikah.
Abad ke-8
Tanggapan Mar Nicholas:
St. Boniface melaporkan kepada Paus bahwa di Jerman tidak ada uskup atau imam selibat.
Abad ke-9
836-Konsili Aix-la-Chapelle secara terbuka mengakui aborsi dan pembunuhan bayi terjadi di biara-biara wanita dan biara-biara pria menutupi aktivitas rohaniawan tak menikah. St. Ulrich, uskup kudus, berargumentasi dari dasar kitab suci dan pengertian umum bahwa hanya jalan untuk kemurnian gereja dari ekses buruk selibasi mengijinkan imam-imam menikah.
Tanggapan Mar Nicholas:
Ada banyak kasus aborsi di biara-biara Roma Katolik, juga pelecehan seksual, pedophilia, masturbasi dan onani bagi para imam dan suster karena mereka terpaksa harus mematuhi aturan lembaga gerejawi bukan mengikuti aturan Tuhan. Tidak heran apa bila banyak imam-imam Katolik pada akhirnya keluar dari keimamatan demi menikah dan tidak mau hidup munafik dan bermuka ganda dibalik jubah mereka yang terlihat tanpa dosa.
Abad ke- 11
1045-
Paus Benedict IX mengeluarkan dirinya sendiri dari selibasi dan berhenti agar menikah.
Tanggapan Mar Nicholas:
Inilah adalah contoh orang yang tidak mau hidup munafik dan bermuka ganda, dan sadar bahwa dirinya tidak mampu tidak menikah, sayangnya ia harus meninggalkan keimamatan karena kesesatan ajaran Gereja.
1074-Paus Gregory VII mengatakan jika ada orang ditahbiskan pertama harus berjanji selibat: para imam [harus] pertama melepaskan diri dari genggaman istri mereka.
Tanggapan Mar Nicholas:
Ini adalah kebijakan yang salah total dan tidak pantas untuk menjadi imam dalam keimamatan Gereja. Mereka ini adalah manusia yang egois dengan meninggalkan istrinya. Manusia seperti ini tidak pantas memegang Cawan Kudus.
1095-Paus Urban II punya imam – imam yang memiliki istri dijual kepada perbudakan, anak-anak ditelantarkan.
Tanggapan Mar Nicholas:
Imam-imam seperti ini tidak layak untuk ditahbiskan karena mereka ini adalah penjahat-penjahat kemanusiaan yang tak punya hati nurani. Mereka adalah sampah kotor dalam Gereja.
Abad ke-12
1123-Paus Calistus II: Konsili Lateran Pertama mendeklarasikan bahwa rohaniawan menikah adalah rohaniawan tidak sah.
Tanggapan Mar Nicholas:
Ini sama dengan meludahi muka rasul Petrus sendiri yang menikah!
1139-Paus Innocent II: Konsili Lateran Kedua menegaskan dekrit konsili sebelumnya.

Abad ke-14
Uskup Pelagio mengeluhkan para wanita masih ditahbiskan dan mendengarkan pengakuan-pengakuan dosa.
Tanggapan Mar Nicholas:
Ada contoh dalam Alkitab bahwa, wanita juga ditahbiskan hanya bukan tahbisan sebagai Diakon, Imam dan Uskup (Holy Orders). Wanita ditahbiskan sebagai Diakonisa dalam jenjang tahbisan minor (Minor Orders); seperti diakonisa Junia (Roma 16:7)
Abad ke- 15
Transisi; 50% para imam menikah dan diterima oleh umat.
Abad ke-16
1545-63- Konsili Trente menyatakan bahwa selibasi dan keperawanan adalah lebih baik dari pada menikah.
Tanggapan Mar Nicholas:
Menikah dan tak menikah tidak menentukan lebih suci dari yang lain. Kesucian hidup sangat tergantung pada diri pribadi orang percaya dan tidak terkait kepada menikah atau selibat. Ada banyak orang yang selibat justru karakternya lebih buruk dari yang menikah, dan begitu pula sebaliknya. Menikah atau tidak dalam urusan iman sangat tergantung pada komitmen pribadi menjalani Jalan Sempit. Orang yang tidak menikah belum tentu lebih suci hidupnya dari yang menikah.
1517-Martin Luther.
Tanggapan Mar Nicholas:
Martin Luther adalah pendobrak dari kebobrokan moral dan kesesatan ajaran lembaga Gereja, tetapi disisi lain Martin Luther membawa orang ke jalan ekstrim kiri sehingga sama saja dengan Gereja Roma Katolik dan tidak heran teolog Russia Alexei Komiakov berkata; Orang-orang Protestan adalah Paus – paus Terselubung” (All of Protestants are Crypto-Papists). Roma ekstrim kanan dan Protestan ekstrim kiri.
1530-Henry VIII.
Tanggapan Mar Nicholas:
Raja Inggris, memang jelas salah dalam moral. Namun, Gereja Anglikan memisahkan diri dari Roma – Vatikan adalah tidakan benar. Sejak awal tahun 36 Masehi Gereja Inggris sudah lebih dahulu terbentuk sebagai keuskupan mandiri sebelum Gereja Roma di Vatikan. Gereja Inggris adalah gereja yang dianiaya dan dijajah selama berabad-abad sejak abad ke-6 M., dalam Konsili Withby, Canterbury, Inggris. Bertepatan kasus raja Inggris, Henry VIII melawan Paus Roma dimanfaatkan dengan baik oleh Gereja Anglikan melepaskan dirinya dari penjajahan Roma.
Abad ke-20
1930-Paus Pius XI: seks bisa menjadi hal yang baik dan kudus.
Tanggapan Mar Nicholas:
Paus Pius XI adalah orang bijaksana dan benar dalam sikapnya. Seks jika dilakukan dlam kekudusan dan menghormati perkawinan adalah baik, tetapi para pendosa menjadikannya sebagai sarana berbuat jahat dan melawan Tuhan.
1951-Paus Pius XII: Pastor Lutheran menikah mentahbiskan imam Katolik di Jerman.
1962-Paus John XXIII: Konsili Vatikan II; dengan berkata-kata bahasa daerah; Menikah sejajar kepada keperawanan (Selibat).
Tanggapan Mar Nicholas:
Tepat dan sangat Alkitabiah!
1966-Paus Paul VI: Selibasi hanya dispensasi.
Tanggapan Mar Nicholas:
Tepat, tetapi pelaksanaannya justru pemaksaan sampai hari ini.
1970s-Ludmilla Javorova dan beberapa wanita Czech lainnya melayani kebutuhan para wanita dipenjara oleh rezim Komunis.
Tanggapan Mar Nicholas:
Inilah fungsi dan karya para wanita yang ditahbiskan dalam jajaran Diakonisa seperti “Suster-suster Katolik.”
1978-Paus John Paul II: mempetieskan dispensasi.
Tanggapan Mar Nicholas:
Kesalahan terus menerus setiap pergantian pemimpin, berubah kebijakan!
1983-Hukum Kanon Baru.
Tanggapan Mar Nicholas:
Sampai sekarang belum direalisasikan masalah Imam menikah dalam Gereja Roma.
1980-Pastor-pastor Anglikan /Episcopal ditahbiskan sebagai Imam-imam Katolik di Amerika Serikat, dan juga di Kanada dan Inggris pada tahun 1994.
Para Paus yang Menikah
Shliakh Mar Shimon Keipha, St. Felix III 483-492 (2 anak), St. Hormidas 514-523 (1 anak laki-laki), St. Silverus (Antonia) 536-537, Hadrian II 867-872 (1 anak perempuan), Clement IV 1265-1268 (2 anak perempuan), Felix V 1439-1449 (1 anak laki-laki)
Para Paus yang anak-anak dari Para Paus, atau rohaniawan lain
Nama Paus
Paus
Anak dari
St. Damascus I
366-348
St. Lorenzo, imam
St. Innocent I
401-417
Anastasius I
Boniface
418-422
Anak dari imam
St. Felix
483-492
Anak imam
Anastasius II
496-498
Anak Imam
St. Agapitus I
535-536
Gordiaous, Imam
St. Silverus
536-537
St. Homidas, paus
Deusdedit
882-884
Anak Imam
Boniface VI
896-896
Hadrian, Uskup
John XI
931-935
Pope Sergius III
John XV
989-996
Leo, Imam
Para Paus yang punya Anak-anak Haram setelah tahun 1139
Innocent VIII
1484-1492
Beberapa anak
Alexander VI
1492-1503
Beberapa anak
Julius
1503-1513
3 anak perempuan
Paul III
1534-1549
3 anak laki-laki, 1 anak perempuan
Pius IV
1559-1565
3 anak laki-laki
Gregory XIII
1572-1585
1 anak laki-laki
Mitos dan Fakta
Mitos: Semua Imam mengangkat sumpah selibat.
Fakta: Kebanyakan Imam-imam tidak mengangkat sumpah. Itu hanya janji yang dibuat di hadapan Uskup.
Mitos: Selibat bukan alasan untuk kekurangan pekerja keagamaan.
Fakta: 1983 survei Gereja-gereja Protestan menunjukkan surplus rohaniawan; gereja Katolik sendiri kekurangan pekerja.
Mitos: Selibat rohaniawan adalah norma sejak Konsili Lateran Kedua tahun 1139.
Fakta: Imam-imam dan bahkan Para Paus masih terus menikah dan punya anak-anak untuk beberapa ratus tahun setelah penanggalan itu. Sebenarnya, Gereja Katolik Timur masih punya Imam-imam menikah.
Dalam Gereja Latin, orang bisa saja imam menikah jika:
  • Orang itu adalah pastor Protestan pertama kali; atau
  • Jika orang itu adalah Katolik yang berumur panjang tapi berjanji tidak pernah lagi melakukan hubungan seksual dengan istrinya.
Mitos: Kekurangan pekerja dibidang agama disebabkan materialism dan kurangnya iman. Fakta: Riset (1985 Lilly endowment): tidak ada bukti mendukung kehilangan iman karena tidak adanya tenaga pekerja agama... sukarelawan muda dan pelayanan kampus semakin meningkat.
Kami percaya bahwa para imam harus diijinkan menikah dan para wanita punya hak sejajar bagi panggilan mereka untuk ditahbiskan (Tahbisan Minor) bersama dengan calon laki-laki lainnya.
Kami percaya bahwa selibat hanyalah karunia dari Ruakh ha-Kodesh dan tak bisa dipaksakan oleh peraturan organisasi gerejawi apapun, sebab pada hakikatnya secara kodrat umum semua orang dipanggil untuk menikah dan bukan hidup menyendiri. Karunia Ruakh ha-Kodesh tak bisa dimandatkan, maka itu adalah penghormatan mendalam bagi karunia selibasi yang kita minta menjadi pilihan individual dan bukan paksaan atas mereka yang merasa tidak terpanggil untuk selibat. (1 Korintus 7:7)
__________________________
Sumber sejarah:
1.          Oxford Dictionary of Popes; H.C. Lea History of Sacerdotal Celibacy in the Christian Church 1957;
2.          E. Schillebeeckx The Church with a Human Face 1985; J.
3.          McSorley Outline History of the Church by Centuries 1957
4.          F.A.Foy (Ed.) 1990 Catholic Almanac 1989; D.L. Carmody
5.          The Double Cross - Ordination, Abortion and Catholic
6.          Feminism 1986; P.K. Jewtt The Ordination of Women 1980;
7.          A.F. Ide God's Girls - Ordination of Women in the Early Christian & Gnostic Churches 1986;
8.          E. Schüssler Fiorenza In Memory of Her 1984; P. DeRosa Vicars of Christ 1988.


ARTIKEL TERKAIT:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar